Slider

Recent

Business

Technology

Life & style

3 Jenis Pekerjaan Online Paling Menggiurkan untuk Milenial

Bisnis atau pekerjaan online bisa dibilang cukup menjanjikan di era digital, yang kian berkembang seperti sekarang. Peluang ini bisa dimanfaatkan, khususnya oleh anak-anak muda atau generasi milenial, yang memang sedang berada di usia produktif. Jika kamu termasuk salah satu yang meilirik pekerjaan online, ada beberapa pilihan menarik untuk mencoba peruntungan. Nah, berikut ada tiga pekerjaan online yang bisa dilirik oleh generasi milenial :

1. Penulis Lepas
Bagi kamu yang gemar menulis, bisa memanfaatkan hobi ini untuk menghasilkan uang. Ada banyak peluang jika kamu ingin menjadi penulis lepas dengan upah yang cukup lumayan, meski besarannya bergantung pada bobot tulisan. Peluang menjadi penulis lepas ini cukup besar, karena dengan pertumbuhan situs web, maka peluang bagi penulis lepas pun terbuka. Salah satunya, menjadi kontributor untuk media online atau situs web lainnya.

2. YouTuber
Popularitas YouTube sekiligus membuka peluang bagi kamu yang kreatif untuk menghasilkan uang. Bukan rahasia lagi, saat ini banyak YouTuber sukses dan terkenal, yang tentunya juga berdampak pada bertambahnya penghasilan mereka.

Generasi milenial yang dikenal dengan kreativitasnya pun bisa menjadi YouTuber dengan membuat channel YouTube sendiri. Tentukan konsep seperti gaming, travelling, atau tutorial bermanfaat, terus konsisten dan berkreasi agar bisa mendapatkan banyak subscriber. Semakin banyak subscriber dan populernya video, maka kian besar kemungkinan akan dilirik oleh pengiklan. Ketika ada pengiklan yang mengajak bekerja sama, maka tentunya kamu akan mendapatkan penghasilan.

3. Berjualan di Toko Online
Siapa saja kini bisa berjualan dengan mudah melalui internet. Bisa dibilang, berjualan di toko online merupakan peluang bisnis yang menjanjikan, apalagi saat ini banyak platform yang bisa digunakan. Ada beberapa platform gratis yang bisa digunakan untuk berjualan online, seperti Tokopedia, Bukalapak dan Shopee.


Jika kamu tidak ingin berjualan melalui toko online, maka Instagram bisa menjadi pilihan. Saat ini, banyak anak muda berjualan di Instagram dengan membuat akun khusus. Penjual di Instagram pun bisa mempromosikan barang dagangan melalui fitur berbayar, agar bisa muncul di lini masa pengguna lain, sehingga semakin banyak orang yang mengetahui bisnisnya.

Nah, itu tadi tiga pilihan pekerjaan online yang bisa dilirik oleh anak muda. Kamu bisa menjajakinya sebagai karir yang serius, atau sekadar mengisi waktu luang nan menguntungkan.

Selamat mencoba!

Sumber : Liputan6

Gangguan Psikologis yang Terjadi Akibat Pengaruh Teknologi

Perkembangan teknologi dan media sosial sekarang bisa dibilang sangat pesat. Banyak sekali manfaat yang kita rasakan dari hal tersebut. Sebutlah seperti kemudahan dalam berkomunikasi, kemajuan ekonomi secara global, interaksi sosial yang lebih luas, dan segala kemudahan lainnya. Namun, segala sesuatu yang berkembang pasti memiliki efek negatif, jika kita tidak bijak dalam memanfaatkan segala kemudahan itu.

Terlalu berlebihan dalam menggunakan teknologi dan media sosial dapat memicu gangguan psikologis. Hal tersebut diakibatkan oleh pengaruh pergaulan sosial yang berubah, maupun penggunaan teknologi tanpa membatasi diri. Teknologi dan media sosial juga bisa menjadi penyebab memburuknya gangguan-gangguan psikologis yang memang sudah dialami seseorang. Berikut ini adalah gangguan psikologis yang bisa diakibatkan kemajuan teknologi dan media sosial.

1. Anti Sosial
Dalam ilmu kejiwaan, anti sosial disebut juga dengan schizoid, yang mana memiliki pengertian yang luas. Namun, jika dikaitkan dengan pengaruh teknologi dan media sosial, dapat diartikan dengan gangguan kepribadian yang cenderung kepada menghindari hubungan dengan orang lain. Jika seseorang memiliki kecenderungan anti sosial, maka kecanduan terhadap media sosial dapat memperparah kondisi psikologisnya. Si penderita akan lebih sering berinteraksi di dunia maya dan kontak sosial dalam masyarakat akan semakin berkurang. Penderitanya akan lebih nyaman untuk menyendiri. Hal tersebut tentunya akan mengakibatkan kesulitan dalam interaksi langsung, dan akan mengganggu kehidupan sosial mereka.

2. Anoreksia dan Bulimia Nervosa
Keduanya merupakan gangguan perilaku makan, tetapi memiliki perbedaan dalam gejalanya. Jika bulimia lebih menginginkan bentuk tubuh yang normal, maka anoreksia justru lebih terobsesi pada bentuk tubuh yang terlalu kurus. Penderita bulimia cenderung memiliki bentuk tubuh lebih normal dibandingkan anoreksia. Hal itu dilakukan dengan cara makan sangat sedikit, atau makan banyak tapi kemudian memuntahkan kembali makanan itu.

Maraknya body shaming di media sosial, bisa menjadi pemicu seseorang mengalami gangguan tersebut, karena seseorang akan cenderung terpengaruh pada komentar orang lain terhadap diri penderitanya. Sugesti terhadap bentuk tubuh ideal itulah yang menyebabkan seseorang terobsesi. Hal ini tentu bukan hanya tidak baik bagi psikologis, tetapi juga kesehatan fisik penderitanya.

3. Megalomania
Megalomania adalah obsesi yang berlebihan terhadap diri sendiri. Penderita gangguan ini merasa menjadi seseorang yang hebat dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Penderitanya sangat menginginkan rasa hormat dan pujian dari orang lain, dan cenderung meremehkan lingkungan sekitar. Media sosial dapat menjadi tempat bagi seseorang unjuk diri. Dan megalomania merupakan manifestasi ekstrem dari sindrom narsisme, yang bisa diperparah karena penggunaan media sosial yang berlebihan.

Seseorang akan lebih terobsesi pada penilaian orang lain dan bisa mengakibatkan depresi, jika penderitanya tidak mendapatkan penilaian yang mereka inginkan.

Sumber : liputan6